Hijau Jakartaku
Sudah sebulan ini gw pindah di kawasan kuningan, Jakarta Selatan.
Baru sehari dua hari saja rasa ga betah mulai muncul, terutama bila menilik ke kawasan di belakang Ambassador, sejauh mata memandang jaraaaaang sekali nampak hijaunya daun.
Hilangnya kehijauan di seputar kawasan tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa hal, misalnya:
1. Orang malas membersihkan daun-daun yang berguguran
2. Orang malas menyirami tanaman karena mereka merasa makan dan minum sekarang juga susah :)
3. Takut nyamuk bersarang di pepohonan
atau mungkin juga alasan berikut ini
4. Pajak di daerah itu semakin mahal, jadi mereka amat sayang untuk menggunakan lahan sebagai lahan hijau, mending dipakai untuk berjualan aja, biar bisa menghasilkan uang untuk bayar pajak :))
Padahal kalo dipikir-pikir dan dituangkan dalam bahasa jawa: mbulet sakabehe... semuanya berputar di situ-situ saja.. melingkar lingkar tak keruan.. yang akhirnya berefek ke mana-mana..
Kalo boleh sekedar sumbang saran siy, demi hijaunya jakarta, bagaimana kalau:
1. dibuat aturan yang sedikit melegakan, seperti misalnya:
untuk lahan yang merupakan tumbuhnya pepohonan dikenai pajak lebih rendah
hal ini diharapkan bisa merangsang seluruh sektor untuk berlomba-lomba menanam pohon..
khan asyik juga bukan kalo berdiri kafe2 yang full pohon? atau menikmati makanannya di atas pohon? siapa tahu.. itu ide yang unik bukan? hehe..
pendapatan pemerintah berkurang dunks? ahh semuanya nanti juga akan kembali ke kita-kita kok.. atau pajak untuk lahan yang dijadikan bahan bangunan dibuat sedikit lebih tinggi saja?
biar orang langsung berlomba-lomba membuat taman? :))
2. lalu, setiap areal yang baru akan dibangun, wajib ditanami 1 pohon dalam setiap 100m2, jadi kalau arealnya 500m2, ya ada 5 pohon, entah itu pohon mahoni yang elok dan gagah, atau pohon ceri yang kecil namun menaungi.
3. juga areal pergedungan, perkantoran atau perumahan.. wajib menggunakan paving blok
dan bukannya semen atau aspal.. untuk mendukung drainase..
yah hitung-hitung untuk mengurangi dampak hujan lebat..
berguna juga untuk anak cucu bukan?
4. nah bagaimana dengan lahan yang terlanjur dibangun secara keseluruhan? Mudah saja..
- apabila berupa gedung, diusahakan di lahan atau lantai yang memungkinkan,
misalnya di atap yang datar,atau di balkon2 diatur sedemikian rupa untuk menjadi taman,
tanaman ditata sebanyak dan serapi mungkin, kayanya gw pernah kesengsem sama salah satu gedung di bilangan grogol yang sudah menerapkan hal ini,
kalau ngga salah dulu namanya Mercure
- apabila berupa rumah, juga mudah, di dalam ataupun luar rumah
bisa diletakkan berbagai tanaman dalam pot, tinggal disesuaikan saja pengaturannya..
untuk yang satu ini, coba kunjungi House of Dona Carmen,
sebuah rumah milik ibu Nina di kampung asri Banjarsari V no 13, di bilangan Fatmawati Jakarta Selatan,
sebuah rumah tinggal 4 lantai yang tidak memiliki lahan kosong sedikitpun,
namun dapat disulap menjadi hutan mini yang elok.. sst.. ada kamar mandi alamnya juga lho di lantai 4..
alhasil rumah yang walaupun setiap lantainya rendah siap menyiram kita dengan rasa sejuk sesaat kita menapakkan kaki di sana..
Apabila tempat tinggal dan kantor kita hijau, drainase baik, kualitas udara menjadi lebih baik, banjir juga terkurangi, perembesan air baik, persediaan air bersih juga akan mencukupi, pasti penggunaan AC akan berkurang, efek pemanasan global berkurang, manusia-manusia temperamental karena panas juga berkurang, kesehatan juga pasti menjadi lebih baik sehingga himpitan ekomomipun niscaya akan berkurang.. Semoga!
Label: Better Indonesia



0 Komentar:
Poskan Komentar
Berlangganan Poskan Komentar [Atom]
Link ke posting ini:
Buat sebuah Link
<< Halaman Muka